- Sirip Hiu di potong Hidup hidup -Sup hisit tumbuh bersama sejarah panjang bangsa China. Muncul tahun 960 pada masa dinasti Sung dan makin membudaya pada dinasti Ming tahun 1368. Sejak itulah, sup hisit menjadi santapan pada upacara pengantin, ulang tahun perkawinan, pesta perusahaan, dan tentu saja perayaan Imlek.
Sean Yap dalam The Man Eating Shark (2008) menulis, sup hisit adalah lambang kesejahteraan, cara untuk menunjukkan mian zi atau wajah. Hal ini karena dalam tradisi China pihak pengantin laki-lakilah yang membiayai pesta perkawinan. Tanpa sup hisit, keluarga pengantin pria berarti tidak memberikan ”wajah” (penghargaan) pada keluarga pengantin perempuan dan para undangan.
Orang China juga punya perumpamaan ”Nian nian you yu”, artinya kemakmuran sepanjang tahun. Yu, yang artinya berlimpah, dibaca dengan nada sama dengan yu yang berarti ikan. Maka, seperti ditulis MA Shumin dalam Shark Fin Soup: A Cultural & Environmental Conflict (2008), ikan selalu dihidangkan dalam perayaan tahun baru agar datang kemakmuran.
Ketika jumlah dan kesejahteraan manusia belum meningkat, kebutuhan akan sirip hiu tentu tidak berdampak besar terhadap populasi hiu di samudra. Namun, dengan peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pencitraan produk yang luar biasa sepanjang 15 tahun terakhir, keberadaan hiu terancam karena permintaan terus meningkat.
Menurut organisasi lingkungan WildAid, pertumbuhan perdagangan sirip hiu mencapai 5 persen per tahun di Hongkong, tempat perdagangan 50 persen sirip hiu dunia. Meskipun harganya bisa mencapai 700 dollar Amerika Serikat (Rp 6,3 juta) per kilogram di Hongkong, sup hisit selalu ada dalam menu restoran-restoran China besar di seluruh dunia. Yang menyantap bukan hanya orang China, melainkan dari berbagai bangsa.
Survei yang dilakukan WildAid dan The Chinese Wildlife Conservation Association tahun 2006 di China menunjukkan, 35 persen dari responden mengonsumsi sup hisit tahun sebelumnya. Namun, hanya sedikit yang tahu bagaimana cara sirip hiu itu sampai ke mangkuk mereka.
Cara yang kejam
Dalam film dokumenter tayangan National Geographic Channel, praktik pengambilan sirip hiu sungguh mengerikan. Hiu yang tertangkap langsung dipotong hidup-hidup seluruh siripnya lalu dibuang kembali ke samudra. Hiu yang tidak bisa lagi berenang tenggelam ke dasar, kehabisan darah dan mati perlahan-lahan.
”Cara itu tidak hanya kejam, tetapi juga pemborosan. Bayangkan, 95 persen badan hiu itu dibuang,” kata Peter Knights, Direktur Eksekutif WildAid, seperti dikutip ABC News.
Daging hiu memang tidak seenak ikan tuna, marlin, atau salmon. Karena harganya murah, nelayan malas menyimpan karkas hiu yang besar, sementara sirip yang mahal hanya membutuhkan tempat sedikit. Sirip juga mudah dikeringkan dan disimpan berbulan-bulan.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan, lebih dari 100 juta hiu ditangkap setiap tahun dan 38 juta di antaranya mati karena diambil siripnya. Bangkainya berserakan di kawasan penangkapan hiu, seperti perairan Kepulauan Galapagos, Kosta Rika, Ekuador, dan Meksiko.
Gara-gara itu pula populasi hiu menurun sedikitnya 80 persen selama 50 tahun terakhir. Tanpa intervensi, beberapa spesies akan punah dekade mendatang. Padahal, hiu adalah salah satu spesies purba yang mampu bertahan hingga sekarang. Salah satu fosil hiu tertua yang ditemukan usianya di atas 400 juta tahun.
Total ada 490 spesies hiu di berbagai perairan dunia dengan ukuran beragam. Yang terkecil panjangnya hanya 15 cm dan yang terbesar mencapai 14 meter.
Meskipun beberapa jenis hiu bisa hidup lebih dari 100 tahun, perkembangbiakannya lambat. Hal ini karena sebagian besar hiu ovovivipar, yaitu telur dibuahi, berkembang, dan menetas dalam tubuh induknya. Usia subur yang rata-rata 25 tahun, masa kehamilan panjang—ada yang mencapai 24 bulan—dan sedikitnya anak-anak yang mampu bertahan membuat populasi hiu jadi tak banyak.
Hiu berperan sebagai predator utama dalam rantai makanan samudra. Bila mereka punah, ikan-ikan kecil dan menengah akan berbiak tanpa kendali sementara sumber makanan terbatas. Pada suatu titik, perebutan makanan akan mengguncang keseimbangan dan matilah ikan kecil dan menengah yang dikonsumsi manusia.
Di luar peran pentingnya dalam rantai makanan, orang sering tidak paham tentang kehidupan hiu, sejarah, perilaku, dan kejamnya cara penangkapan. Mitos-mitos yang salah tentang hiu gara-gara pemberitaan yang sensasional dan film-film, yang hanya mengekspos sisi predatornya, membuat orang takut dan tak peduli pada kelangsungan hidup sang hiu.
Padahal, setajam apa pun gigi hiu dan secepat apa pun kehebatan mereka berenang (rata-rata kecepatan 8 km/jam dan saat mengejar buruan bisa mencapai 50 km/jam), mereka tetap saja kalah dari predator nomor satu dunia, manusia.
Kemajuan teknologi, seperti sonar pencari ikan, satelit penentu lokasi, kapal penangkap ikan modern, dan kapal pengolah ikan yang beroperasi 24 jam, makin membantu manusia menyapu samudra. Tak ada lagi tempat sembunyi, bahkan bagi hiu yang digambarkan ganas dan suka menyerang.
Lindungi hiu
Untunglah masih ada sebagian manusia yang punya kesadaran akan perlunya kehadiran setiap makhluk hidup demi keseimbangan ekosistem. Merekalah yang, melalui organisasi-organisasi pencinta lingkungan, mengampanyekan berbagai upaya perlindungan hiu: dari menghapus praktik pengambilan sirip, mengatur kuota penangkapan, melindungi spesies yang hampir punah, sampai menghapus menu sup hisit dari setiap perayaan dan restoran.
Upaya itu perlahan-lahan membangun kesadaran meski belum meluas. Di Amerika Serikat, misalnya, Kongres tahun 2000 mengeluarkan Shark Finning Prohibition Act yang berlaku di perairan AS dan Pasifik. Isinya, larangan penangkapan hiu untuk diambil siripnya saja dan tidak memperbolehkan kepemilikan sirip hiu tanpa badannya. Pelarangan serupa, bahkan, sudah berlangsung di Teluk Meksiko dan Karibia, 1993.
Koalisi organisasi lingkungan yang terdiri dari International Fund for Animal Welfare, Human Society International, WildAid, dan Defenders of Wildlife, berhasil memasukkan beberapa spesies hiu ke Appendix I dan II CITES, organisasi internasional yang mengatur perdagangan flora dan fauna. Masuk Appendix I berarti sudah terancam punah dan tidak boleh ditangkap untuk kepentingan komersial. Appendix II berarti ada kuota dan pengawasan ketat.
Namun, peraturan sering dilanggar karena lemahnya pengawasan dan masih tingginya permintaan. Karena itu, advokasi konsumen kini jadi strategi utama perlindungan hiu. Setelah dipapar berbagai informasi, 30 persen masyarakat Thailand yang disurvei WildAid, misalnya, tidak mau lagi makan sup hisit.
Mantan Presiden Taiwan Chen Shui Bian, bahkan, mengumumkan tidak menyuguhkan sup hisit pada pesta perkawinan anak perempuannya.
Organisasi lingkungan juga mengajak superstar basket, China Yao Ming, dan artis Jackie Chan mengampanyekan hidup tanpa sup hisit. Video Yao Ming untuk melindungi hiu diharapkan bisa menyamai efektivitas video Yao Ming yang melompat untuk menepis peluru pemburu gajah yang sangat populer di situs web YouTube.
Demikian pula Disneyland Hongkong, yang sejak diprotes pencinta lingkungan, tidak lagi menyuguhkan sup hisit dalam pesta perkawinan di kawasannya mulai 2005. Sup hisit diganti dengan sup lobster yang ternyata tidak kalah lezat.
Di Indonesia sebenarnya sudah banyak keluarga yang mengganti sirip hiu dalam sup hisit dengan daging kepiting. Ikan yang wajib ada pun sudah lama direpresentasikan dengan bandeng yang jauh lebih murah dan sudah dibudidayakan.
Karena itu, pendapat Confusius tentang makan mungkin sudah saatnya diganti dengan pendapat Socrates, ”Orang yang tidak berharga hidup hanya untuk makan dan minum, orang yang berharga hanya makan dan minum untuk hidup.”
Diadaptasi dari Tulisan Agnes Aristiarini
Kompas